Followers

11.10.11

PERKONGSIAN: Dari Nota Wardina Tentang Tuan Guru Hj. Nik Abdul Aziz

BISMILLAH. Assalamualaikum dan salam sejahtera semua.

Seandainya Nik Aziz Gubernur Aceh
Banda Raya - 9 June 2011 | 54 Komentar
Bila ada Iman dan Ada Kuasa : Sumber - harianacheh.com

Fakhruddin Lahmuddin bersama kawan-kawannya dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar bersilaturrahmi ke Negeri Kelantan, Malaysia. Mereka ingin menjumpai seorang pemimpin rakyat yang mungkin sekali tak ada di daerah lain, apalagi di Aceh.


Namanya Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz bin Nik Mat. Lebih akrab disapa “Nik Aziz”. Dia menjabat Menteri Besar (gubernur) Negeri Kelantan sejak 20 tahun terakhir. Karena kepemimpinannya, oleh rakyat, ia digelar Umar bin Khattab-nya Kelantan. Musabab itulah, Fakhruddin dan kawan-kawan ingin belajar pada gubernur berusia 84 tahun itu.

Saat tiba di depan pendopo, rombongan disambut sekretaris gubernur; karena Nik Aziz sedang dalam perjalanan pulang dari Kuala Lumpur. Lalu mereka dipersilakan duduk di ruang pertemuan berkapasitas 200-an orang. Sungguh, mereka terpana. Kursi dan meja kayu, kipas dan mimbar usang, pula perabotan lainnya, tampak sederhana, jauh sekali dengan di Aceh atau provinsi lainnya.

Tak berapa lama kemudian Nik Aziz hadir. Ia berjubah putih (selalu demikian, menurut cerita warga Kelantan). Mereka selanjutnya beramah-tamah. Usai Fakhruddin dan kawan-kawan menyampaikan maksud kedatangannya, Nik Aziz pun berbicara.

“Nak jaga dan bangun Kelantan tak sulit bagi saya. Yang sulit adalah nak jaga diri saya dari godaan duniawi,” tutur Nik Aziz menanggapi penilaian Fakhruddin dan kawan-kawan tentang ketenteraman Kelantan, di mana mayoritas penduduknya Melayu asli.

Pernyataan tersebut memantik semangat Fakhruddin untuk terus mengorek sisi menarik lain dari seorang Nik Aziz. Ketua MPU Aceh Besar itu pun memerolehnya dari melihat sendiri maupun berdasarkan cerita penduduk Kelantan.

Pertama, begitu dilantik jadi Menteri Besar (MB) Negeri Kelantan, dinas pembangunan umum setempat segera menawari Nik Aziz untuk mengaspal dan memperbaiki jalan sekitar rumah dan pesantren miliknya. “Jangan, jangan! Kenapa sebelum saya jadi MB tak diperbaiki? Tak boleh,” tegasnya. Orang dinas terdiam.

Kedua, Nik Aziz selama jadi gubernur tak pernah tidur di pendopo. Ia menilai, kalau tidur di pendopo harus menyewa guard (satpam) dan tukang kebun, misalnya. Lalu pekerja itu digaji dengan uang negara, di mana uang itu seharusnya dipakai untuk menyejahterakan rakyat. Ia tak mau begitu. Gubernur Aceh sekarang juga tak mau tidur di pendopo, tapi berbeda tujuannya dengan Nik Aziz.

Ketiga, Nik Aziz tinggal di rumah yang sangat sederhana. Rumahnya berkonstruksikan kayu. Kecil. Padahal sampai kini ia sudah punya 10 anak dan 55 cucu dari istri tunggalnya. Fakruddin dan kawan-kawan terpana lagi ketika berkunjung ke rumahnya. Tak ada satupun pengawal yang jaga-jaga di rumah pemimpin salah satu negara bagian Malaysia itu.

Keempat, Nik Aziz pelayan tamu. Suatu kali ada wartawan asing ingin menjumpai Nik Aziz di rumahnya. Usai dipersilakan masuk oleh seorang lelaki tua, wartawan itu menunggu sang gubernur. Tak lama kemudian, lelaki tua tadi keluar dengan membawakan minuman.

“Saya ingin menjumpai Nik Aziz, apa dia ada di sini?” kira-kira begitu tanya si wartawan. “Inilah saya Nik Aziz yang kamu maksud,” sahut lelaki tua itu. Si wartawan terkejut dan malu. Lalu satu pertanyaan menarik darinya timbul lagi kemudian, “Anda seorang gubernur, apa tidak takut tinggal di rumah dengan tak ada seorangpun guard?” Dengan mantap Nik Aziz menjawab, “orang yang perlu pengawal adalah orang yang punya musuh, punya masalah. Saya tak punya masalah dengan siapapun. Guard saya adalah beribadah kepada Allah.”

Kelima, Nik Aziz turut membersihkan tandas (sebutan WC oleh orang Malaysia). Suatu kali, sekira jam 3 pagi waktu Malaysia, seorang santri melihat ada bayang-bayang seorang lelaki di sebuah WC pesantren milik Nik Aziz. Ia heran, yang membersihkan toilet seharusnya tugas santri. Begitu didekatinya, ternyata lelaki itu pemimpin pesantren tempat dia belajar, yaitu Nik Aziz. Ia merasa malu.

Keenam, suatu malam, seorang warga keturunan Cina kebingungan karena mobil yang dikemudinya mogok. Lalu sebuah mobil tua berhenti. Seorang lelaki tua turun dari dalamnya. Lalu membantu si Cina itu. Bahkan ditemani sampai ke bengkel. Esok pagi, ia terkejut. Ia melihat di koran, ada foto orang yang membantunya semalam. Ternyata lelaki tua itu Nik Aziz.

***

Begitulah Nik Aziz. Fakhruddin Lahmuddin menceritakannya beberapa hari setelah ia pulang dari Kelantan. Tepatnya, Ketua MPU Aceh Besar itu mengisahkan kepada saya pada Jumat 27 Mei 2011 yang panas, usai mengajar di Fakultas Dakwah IAN Ar-Raniry Banda Aceh. “Masih banyak cerita menarik lain tentang Nik Aziz selama jadi gubernur, cerita yang nyaris mustahil ada pada diri pemimpin di Indonesia maupun negara lain,” katanya. Dia tidak sedang berbohong.

Adakah calon gubernur di Aceh seperti gubernur Kelantan iu?

Aceh di ambang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). “Sulit menemui calon pemimpin seperti Nik Aziz di Aceh, maka patut memilih yang mendekatinya,” kata pemimpin Ponpres Umardian itu.

Lalu dia menganalogikan pada seorang sopir bus penumpang yang mengalami situasi membahayakan. Tiba-tiba saja, sekitar tiga meter di depannya seorang lelaki tua sedang menyebrangi jalan dengan melangkah pelan, sendiri. Di kanan, bus lain berusaha menyalipnya. Sedang di kiri,  ada jurang yang dalam. Sopir gamang. Kalau menabrak lelaki tua itu pasti mati. Kalau mengelak atau mengerem, bus pasti masuk jurang dan semua penumpang kemungkinan besar akan mati. “Pilih mana?”

“Begitu juga dalam hal memilih pemimpin,” katanya. Bila seandainya semua calon pemimpin tergolong zalim–baik tingkat tinggi maupun rendah–, maka patut memilih satu pemimpin yang zalimnya paling rendah di antara lainnya. Bila pada cerita sopir di atas, lebih bagus menabrak seorang lelaki tua itu daripada masuk jurang lalu semua penumpang mati.

Kemudian Fakhruddin menyebutkan satu hadits sahih riwayat Bukhari yang artinya, “Rasulullah pernah bersabda, `Bantulah saudaramu yang zalim dan yang terzalimi`. Lalu sahabat rasul bertanya,`Ya Rasulullah, kami tahu bagaimana cara membantu orang yang terzalimi, tapi bagaimana kami membantu orang yang zalim?` Rasulullah menjawab, `cegah ia dari melakukan kemungkaran.”

Musim Pilkada banyak “orang zalim” yang minta dibantu saat pemilihan. Bila ada pemimpin–yang sudah bisa dipastikan kalau kepemimpinannya kelak akan menyengsarakan rakyat–meminta bantuan pada kita untuk memilihnya, maka bantulah dia.

“Caranya, jangan memilihnya saat pemilihan berlangsung. Jika kemudian ditanya kenapa tak bantu, cukup dijawab, ‘saya sudah bantu Anda supaya tidak menjadi pemimpin yang zalim. Supaya kejahatan tidak terus bertambah. Maka saya bantu menguranginya dengan tidak memilih Anda saat pemilihan.’ Jika ada calon lain yang minta bantu juga, hadapi dengan cara yang sama,” katanya.

Maka jalan untuk menemukan Nik Aziz di Aceh akan terbuka meski dalam jangka yang lama, dengan catatan konsep “membantu orang zalim” itu harus konsisten dipegang rakyat. Jika tak besar gengsi, pemimpin di Indonesia patut meniru Nik Aziz. Dan andai saja Nik Aziz Gubernur Aceh sekarang, maka majulah Aceh.

ADA PENGAJARAN YANG AMAT BESAR DAN BENAR DALAM TULISAN DISINI.... SAYA MEMANG TAK BOLEH TERIMA JIKA TOK GURU DICERCA DAN DIMAKI SERTA DIHINA. SAYA SANGAT MARAH APABILA ADA YANG MENGAMBIL KENYATAANNYA KEMUDIAN DIMANIPULASIKAN....PADA SAYA BELIAU JAUH LEBIH BAIK DARI SAYA DAN MEREKA YANG MENGHINA ITU. JANGAN PULA ADA YANG MAHU MENUDUH SAYA DENGAN 'LABEL' YANG BUKAN-BUKAN. SAYA MINAT DAN HORMAT DENGAN TOK GURU NIK AZIS. FULLSTOP. MEMANG SUSAH MENCARI PEMIMPIN SEPERTINYA KINI. WALLAHU'ALAM - SAYA SAYANG TOK GURU, MOGA DIRIMU DIBERKATI. (Wardina Safiyyah Fadlullah Wilmot)

10 comments:

  1. Assalamualaikum kakchik..
    Saya pun sayang Tok Guru, bagi saya TGNA seorang contoh pemimpin yang zuhud spt sabda Rasulullah saw : “Zuhudlah di dunia, pasti engkau dicintai oleh Allah dan zuhudlah dalam apa yang ada di tangan orang lain (jangan mengingini untuk memilikinya) pasti engkau dicintai oleh para manusia.” Saya pernah mendengar ceramah beliau, Subhanallah saya sangat terpegun dan tersentuh hati ni dengan setiap tutur katanya yang lembut, diselitkan ayat2 suci Al-Quran dan hadith..Susah nak jumpe pemimpin seperti Tok Guru, Wallahualam..

    ReplyDelete
  2. ingt lagi masa keje kt travel agensi..ada tour ke kelantan..ada sorang tourist ni cerita..dia respekkkk giler kat tok gutu nik aziz...

    ReplyDelete
  3. mengalir air mata pagi jumaat ni..terima kasih sebab share article ni kak chik..semasa harijadi saya pula tu! tak pasal² gembira & bangga..!

    rasa macam nak pindah kelantan......;)

    ReplyDelete
  4. Wa'alaikummussalam kaklong. Kita menyayangi pemimpin yang sama yang di zaman ini begitu sukar mencari klonnya, yang hampir menyerupainya malah yang lebih baik darinya, sukar sekali.

    ReplyDelete
  5. amiey lee, itu kata seorang tourist, sayangnya ramai juga orang Melayu Islam di negara kita ni yang berani mengkeji dan menghinanya. Tapi TGNA tidak terjejas dengan itu semua. Pujian atau kejian tiada kesan.

    ReplyDelete
  6. adik tanpa nama, sama-sama. happy belated birthday dik. semoga diri adik sentiasa dilindungi Allah SWT. nak pindah ke sini, silakan, kami suka terima orang yang sukakan Islam.

    ReplyDelete
  7. Salam kak chik,
    apa khabar?
    Saya trpandang recent comments. tak faham sgt hal yg berlaku, tapi bila brcakap ttg zuhud, memang Tuan guru nik aziz terasa kezuhudannya. haritu saya brcakap2 dgn suami,
    Pasal kisah pelacur yg dapat msuk syurga krn mmberi air kpd anjing yg haus? berlanjut pula, dgn kisah masayarat yg mnjadikan alasan kemiskinan punca kita merompak, mencuri, melacur sdbg. kemudian, trmasuk sifat zuhud.
    "Adakah ada orang yg tak kisah pun dgn harta dunia dan berada dalam situasi yg kalau oranglain lihat, dia amat miskin atau tak berduit?"
    "Ada, sebab dia tidak kisah pun oranglain yg ada kereta besar, rumah besar, isteri cantik2, atau gelaran Datuk. Sebab dia bahagia dalam kehidupannya. "
    Agaknya itulah sifat zuhud.... kalau kita mestila sangat susah melakukannya, yala, asyik nak itu dan ini, dan duit banyak2. hehe...

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Salam kak chik,
    Ini comment baru. :)
    Mungkin konsep zuhud tidak juga memandang pada harta, tapi juga hati, dgn kerendahan hatinya dgn nikmat dunia. itulah tuan guru nik aziz. Moga kami dapat mencontohinya... :))

    ReplyDelete

Kakchik ucapkan terima kasih banyak sebab teman-teman sudi memberi komen. Insyaallah kakchik akan membalasnya secepat mungkin.

Related Posts with Thumbnails